ANWAR CONGO: PENUMPASAN PKI DAN KESAKSIAN TERHADAP FILM “THE ACT OF KILLING”

Anwar-Congo-650x404

Oleh : Rinaldo Dalimunthe (Anggota Bidang Humas Historical Sumut)

Anwar Congo (lahir tahun 1940 di Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara) adalah seorang pria asal Medan yang dikenal karena tampil dalam film dokumenter Jagal. Lahir pada tahun 1940, Anwar hanya meraih pendidikan sampai kelas IV SD di Taman Siswa, Medan. Beliau sangat dikenal di kalangan para pemuda di kota Medan, terutama mereka yang turut serta bergabung di dalam organisasi kepemudaan. Dimasa mudanya dahulu, beliau menghabiskan kesehariannya di ‘Medan Bioskop’. Medan bioskop merupakan bioskop pertama di Kota Medan, yang letaknya berada di Jalan Sutomo. Di tempat inilah Anwar berkumpul bersama teman-temannya. Sebelumnya, dia juga sempat menjadi centeng menjual karcis bioskop ilegal, hingga pada akhirnya diangkat menjadi Asisten manager pada Medan Bioskop . Anwar merupakan salah satu senior, dalam organisasi massa Pemuda Pancasila (PP) di Provinsi Sumatera Utara. PP menjadi salah satu organisasi yang turut ikut dalam penumpasan pemberantasan PKI di Indonesia. Perlu diketahui, pemberantasan PKI yang dipimpin Letjen Soeharto dilakukan setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965. Anwar mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap anggota partai maupun sayap partai PKI,  yang terjadi pada kurun waktu 1965-1966. Ini pengakuan yang sangat mengejutkan. Sebelumnya tidak pernah ada pelaku yang mengaku melakukan pembantaian terhadap orang yang diduga terlibat PKI. Nama Anwar Congo pun akhirnya mendunia sejak memerankan Film dokumenter berjudul “The Act Of Killing. Film karya Joshua Oppenheimer itu bercerita tentang penumpasan komunis pasca peristiwa G30S/PKI. Bahkan film itu diputar di Festival Film Internasional Toronto, Kanada. Film dokumenter “Jagal” atau “The Act of Killing nyaris menyabet Oscar 2013, yang merupakan salah satu piala bergengsi didalam kancah perfilman dunia. Film ini telah mengalahkan 12 Years a Slave pemenang Oscar, sebagai Best Film dalam penghargaan dari media terkemuka Inggris Guardian Film Awards dan masih banyak penghargaan lainnya. Film karya sutradara asal Amerika Serikat ini mengungkap cerita upaya yang dilakukan oleh tokoh pemuda Indonesia pada masa itu atau yang dikenal dengan sebutan ‘Angkatan 66’.

Anwar Congo menjadi salah satu saksi hidup pemberantasan komunis di Sumatera Utara. Berbagai cuplikan yang didapat, kawat merupakan senjata andalan yang digunakan Anwar dalam pembantaian. Pembunuhan dengan lilitan kawat tergolong bersih, tanpa perlu ceceran darah. Ia tidak suka dengan bau dan kotornya ceceran darah. Letak kediaman Anwar Congo berada di kawasan Medan Area yang beralamat Jalan Sutrisno Gang Sehati No. 768 Medan. Rumah yang dihuninya bersama keluarganya ini terlihat sangat sederhana. Meskipun tidak mendapatkan pendidikan yang terbilang tinggi namun beliau terlihat cerdas, sebab beliau sangat gemar membaca, terutama buku-buku bertema sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Beliau mengaku hidupnya tidak tenang dengan banyaknya pemberitaan tentang dirinya terkait penumpasan anggota dari Partai Komunis di Sumatera Utara. Sebelumnya Anwar didalam film itu terlihat begitu terbuka dan juga terang-terangan untuk membeberkan peristiwa yang terjadi pada masa penumpasan PKI, bahkan sempat juga mengadakan konferensi pers, namun belakangan ini beliau mengaku sengaja menghindari para pencari berita, sebab Ia merasa kecewa, dengan beberapa media yang menulisnya sebagai ‘Penjagal’.

Baginya kata ‘Jagal’ dinilai kurang tepat untuk menggambarkan hidupnya di masa muda. “Banyak wartawan yang datang dan saya terima, sempat juga buat konferensi. Tetapi ketika saya baca di beritanya tentang saya, banyak sekali penyebutan yang saya rasa tak pantas. Ada yang menulis saya adalah penjagal dan pembunuh yang terlibat dalam pembunuhan massal pada waktu itu,” tuturnya. “Terlalu kejam menuliskannya sebagai penjagal. Dampaknya sangat terasa bagi saya dan keluarga merasa kurang enak didengar,” ungkap beliau ketika diwawancarai oleh salah satu media yang berada di Indonesia. Menurut beliau, terjadinya penumpasan PKI pada saat itu merupakan salah satu perjuangan yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia, dimana PKI yang saat itu telah membunuh tujuh petinggi Angkatan Darat. “Kami berjuang pada waktu itu, karena PKI mengancam keutuhan negara,” tegas beliau. Bagi Anwar, pembantaian itu adalah cara ampuh membasmi paham  komunisme di Indonesia. Dia berkukuh tindakannya bukanlah merupakan hal yang patut untuk disalahkan.

Pada saat melakukan penumpasan Anwar Congo berusia kurang lebih 26 tahun. Atas kesadaran diri sendiri bersama teman-temannya, melihat orang-orang dari partai komunis di Sumatera Utara selalu saja memojokkan, dan membagi-bagi kelompok hingga pada akhirnya menimbulkan haluan-haluan. para pemusik dilarang karena haluannya ke Amerika. Karena mereka merupakan orang-orang yang anti terhadap Amerika. sebagai orang jalanan, dan mencari penghidupan melalui bioskop Anwar memperjuangkan haknya, Ia tidak sendiri, kala itu banyak rakyat Sumatera Utara yang memang sudah gerah dengan tingkah para anggota PKI. Mereka berjuang sama-sama bahu-membahu mencari siapa saja yang merupakan anggota dan terlibat dalam PKI, hal ini semuanya dilakukan tanpa ada bayaran sedikitpun. Pembasmian yang dilakukan dengan langsung menemui tokoh-tokohnya, sebagian dari para tokoh PKI, ketika diperiksa masih menganggap dirinya hebat, dan mengatakan dia akan mati demi, DN Aidit yang notabane merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia.

Anwar menjelaskan bahwa yang mereka lihat bukanlah faktor PKI-nya, akan tetapi komunisnya, ideologinya bertentangan dengan bangsa Indonesia. Kita itu mayoritas muslim. Sampai-sampai kita dulu pada masa jayanya (PKI) menyuruh membuat huruf L di depan rumah ulama-ulama. Dulu kalau (PKI) udah menang, (ulama). Pada waktu itu, laki-laki merupakan korban penumpasan paling banyak, para perempuan diserahkan langsung ke Kodim. Jika anak-anak maka mereka akan dilindungi. Umumnya penumpasan akan dilaksanakan pada waktu tengah malam, dengan berbagai alasan yaitu agar mayat-mayatnya gampang dibuang dan tidak diketahui oleh siapapun. Anwar Congo, menjadi tokoh utama dalam film “The Act of Killing” besutan Joshua Oppenheimer, Ia merasa telah ditipu oleh sang sutradara karena judul yang diberitahukan awalnya adalah Arsan dan Aminah.

Berikut pengakuan Anwar yang dikutip dari salah satu pers di Indonesia:

Kalau kita bicara mengenai sosok Joshua, kira-kira keadaannya seperti apa? Apakah ada order tertentu? Saya kira tidak seperti itu. Itu hanya kebijaksanaan dia sendiri untuk melengkapi tugas program S3-nya. Dia membuat film itu saya juga heran. Film dokumenter itu diambil dari sejarah Pemuda Pancasila pada tahun 1965. Saat itu situasinya seperti apa? Kita akui situasi saat itu memang cukup menegangkan, di mana kalau kita tidak siap, kita yang disiapkan orang. Berarti ada ancaman? Ya ada ancaman. Setelah film diputar, apa tanggapan masyarakat? Sampai saat ini saya bingung, karena saya belum pernah lihat. Sampai sekarang ini, macam mana bentuk film dan apa ceritanya saya juga nggak tahu. Pada saat itu Anda bergabung dengan barisan komando aksi, siapa yang mengajak? Itu hasrat hati macam-macam pemuda, kami para pemuda antusias terhadap PKI yang telah berbuat seenaknya. Mencederai pemuda. Apalagi kita itu pemuda  yang agak susah. Jadi Pemuda Rakyat itu satu-satunya musuh berat kita waktu itu. Bergerak sendiri-sendiri, atau ada yang mengatur? Nggak, dulu ada namanya komando aksi waktu itu, Pak Kamal (Kamaluddin Lubis, sesepuh PP Medan) juga di dalam, Pak Effendi ketua aksinya juga. Di situ kegiatan mulai membesar sampai-sampai komunisnya kocar-kacir kita buat. Pak Anwar khawatir tidak dengan reaksi masyarakat? Semua saya serahkan saja ke pengacara saya. Anda ingin melihat film itu secara utuh? Siapa yang nggak mau melihat? Tapi sampai sekarang saya belum pernah lihat. Komunikasi terakhir dengan sutradaranya? Sudah jarang komunikasi lagi. Adakah Anda membuat perjanjian tertulis dengan Joshua ? Ada beberapa, cuma saya tidak pernah mengerti karena pakai bahasa Inggris. Kan saya sudah pernah cerita tentang pendidikan saya. Saya hanya orang lapangan. Saya nggak tahu ini apa, artinya apa. Ada memang, tapi saya nggak tahu apa yang diteken. Anda punya berkasnya? Nggak tahu saya. Sudah saya cari, tapi nggak kelihatan. Nggak ingat ditaruh di mana. Kapan Anda gabung dengan komando aksi? Dari awal saya sudah gabung, karena kantor tempat saya kerja dengan komando aksi itu sebelah-sebelahan. Inisiatif sendiri? Inisiatif sendiri. Anda merasa ditipu dengan film ini? Ya saya merasa ditipu. Satu contoh saja judulnya sudah diubah, tanpa meminta persetujuan saya.

Sumber :

http://www.viva.co.id/berita/nasional/355899-siapa-anwar-congo-si-pemeran-algojo-pki

http://www.viva.co.id/berita/nasional/355889-saksi-sejarah-pki-merasa-ditipu-sutradara-amerika

https://www.merdeka.com/khas/saya-tidak-dibayar-untuk-membasmi-pki-polemik-the-act-of-killing-4.html

Pengakuan Anwar Congo sang Pembantai PKI

https://id.wikipedia.org/wiki/Anwar_Congo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s